CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Minggu, 21 Agustus 2011

UNTITTLED #2

PART 2



“ Deviiiiiiiiiiiiiiiii…!!!!!!!!!!!!, mantan lo reseeeeeeeeeeeee…!!!!!” teriak Kharin.
“ Siapa sih Rin??? Lo teriak-teriak kaya anak-anak disini kaga punya kuping aja.” Jawab devi kesal.
“ Afqa tuh, buku lo diambil sama dia, gue kan belum selesai nyontek PR lo Dev,” balas Kharyn sambil menunjuk Afqa.
“Yeeee,, kok jadi gue??,siapa suruh lo nyonteknya serakah.kan gue juga membutuhkan Rin, jadi harus berbagi, hahahaha.” ucap Afqa.
“ Gak lucu…!!” jawab Kharin kesal
“Hehh, lo berdua sama-sama nyontek aja ribut amat sih, kalau mgomel terus kapan selesainya tuh PR??” bentak Devi
“ bener tuh Rin, ribut mulu sih lu, udah kita nyontek bareng-bareng aja, tapi lo jangan nyoba- nyoba godain gue ya?”
“ Ih?PEDE..!!!!!” jawab Kharin singkat, kemudian Kharin pun duduk bersebelahan dengan Afqa untuk ikut menyalin PR.

Dengan wajah bete Kharin menghampiri bangku di sebelah Afqa.

“Nah, gitu doonggg, damai ya?” ajak Afqa

Kharin hanya menjawab dengan mata melotot kepada Afqa.
Afqa hanya tertawa pelan.
Beberapa saat kemudian tak ada lagi suara ribut yang terdengar, Devi pun meninggalkan Kharin dan Afqa yang sedang serius menyalin PR.
Afqa yang kebetulan mantan pacar Devi ini memang sering bertengkar sepele dengan Kharin, terlebih saat mereka di tempatkan dalam kelompok belajar kelas yang sama di kelas mereka, dan ini bukan kali pertama Kharin dan Afqa bertengkar.



@@@



Hari-hari terus berganti, tak menghentikan pertengkaran konyol antara Kharin dan Afqa. Mereka masih saja terus mempermasalahkan segala hal, sekalipun hal kecil, namun teap tidak ada kata damai di antara mereka.
Seiring berjalannya waktu, Kharin merasakan ada yang berbeda dalam hatinya saat bersama afqa, ia merasa bukan hanya kesal dan jengkel sat afqa menjahilinya.
Ada perasaan lain yang mengisi hatinya, entah perasaan apa itu, ia belum dapat memahaminya.

15 menit sebelum bel masuk kelas..

“Rin..Rin..,,gue harus cerita,gue harus cerita…!!” ucap Devi saat menghampiri Kharin yang sedang menyntap bubur ayam pa Bakri di kantin sekolah bersama Vivi dan Resa.
“ Cerita apa sih Dev? Penting amat kayaknya.” Jawab Kharin.
“ Napas Dev,gue liat lo tadi cepet banget lari nya dari aula ke sini, ada berita apa sih??
“ Ini berita penting, penting banget.”
“ yaudah lo mau cerita apaaaaaa?? Daritadi gak mulai mulai tuh ceruta.” tambah Vivi.
“ Oke..oke,,gue cerita.
Coba lo bayangin, gue denger-denger katanya si Afqa jadian sama kak Rosi..!!”
“ Hah?? Afqa jadian sama kak Rosi? “ tanya Kharin kaget.
“ kak Rosi yang kaya nenek lampir itu Dev??” celetuk Resa.
“ hahahahaha..” serentak mereka tertawa, terkecuali Kharin.
“ iyah Rin, katanya afqa sama kak Rosy itu pacaran sekarang.” jelas Devi.
“Yahelahh,, udah gak aneh kali. Dari lama juga gue udah denger gosipnya si kak Rosi ngincer si Afqa.” Jawab vivi.
“ Kok bisa ya?, mmm.” ucap Kharin pelan.
“ Gue aja kaget Rin, emang gila tuh kakak kelas. Kemaren dia bilang gak suka sama si afqa. Tapi gak taunya?? Ck.” Ucap Devi.
“ tapi kemaren gue liat merek ngobrol berdua kok, tapi gak tau deh ngomongin apaan.” tambah vivi.
“ Emang lo masih ad rasa Dev ke afqa?” tanya Resa.
“ Mmm, gue gak tau Res, sebenernya sih udah biasa aja, tapi kadang gue suka inget waktu sama dia dulu.” jelas Devi.

Kharin tersentak mendengar ucapan Devi, ia terdiam sejenak , lalu bangun dari tempat duduknya.

“Ehh, mau kemana Rin?, buburnya kan belum abis.” tanya vivi.
“ gue udah kenyang, gue ke kelas duluan ya” jawab Kharin singkat.
Devi, Resa, dan Vivi pun menatap Kharin bingung.
Kahrin pun melangkah jauh, meninggalkan mereka bertiga yang masih kebingungan dengan sikapnya itu.
“ Kenapa sih si Kharin?tiba-tiba gitu?” tanya Devi.
“ Gak tau, kesambet wewe gombel kali yah tadi pas berangkat sekolah.” Jawab Resa.
“Ha?hahahahhaha..” Devi dan vivi tertawa
“ Kok lo pada ketawa sih? “ tanya Resa heran.
“ Ya elo ngaco, mana ada wewe gombel pagi pagi, hahahah…” ucap devi.
“ Iya juga sih..”
ucap resa sambil menggarukkepelanya yang tidak gatal.

Sejenak mereka saling bertatapan.

“ hahahhahahaahahaa…” Mereka pun akhirnya tertawa.


@@@



“ Eh bu Lidya gak ada tuh katanya, jadi kita di kasih tugas ngerjain modul Bahasa inggris yang bab 5” ucap sang ketua kelas, Rama.

Murid-murid langsung bersorak ramai mendengar berita tersebut, ini berarti mereka bisa bebas selam 2 jam ke depan.

“ Yess, si Bu Lidya gak ada, jadi bebas ribut deh kita, iya gak Rin??hahaha” ucap Afqa sambil menyenggol Kharin yang sedang duduk di bangku kelompok nya.
“ Iyaaa..” jawab Kharin singkat.
“ lah? Lo kenapa rin? Lemes amat? Kan ada gue, semangat doonggg, hahaha ”
Kharin tak menjawab, ia tak menggubris ledekan Afqa. Afqa pun mulai binggung dengan sikap Kharin hari itu.
“ Rin, liat deh, cantik ya? Mrip banget sama lo, hahahha” goda Afqa sambil menunjukan gambar tokoh hantu wanita dalam komik Jepang miliknya.
“ Iyaaaa..” jawab Kharin.
Afqa semakin binggung, ia mulai jengkel karena Kharin bersikap cuek dan tidak membalas semua kajahilannya seperti biasa.

“ Lo kenapa sih Rin? Dari tadi jawabnya Cuma iya-iya aja, ngirit amat sih. Emang selain WC umum yang bayar, sekarang jawab pertanyaan dari gue juga bayar?ck” tanya Afqa kesal.
“ Gue gak apa-apa kok.”
“ gak apa-apa kok dari tadi diem mulu? Gue di cuekin lagi, lo gak lagi nahan sakit perut gara-gra dateng bulan kan?” celetuk Afqa.
“Ha??
Afqa apaan sih lo,hahaha, lo tuh gak boleh tau kayak gituan tau. Ah parah, hhahaha.” ucap Kharin sambil tertawa mendengar pertanyaan konyol afqa barusan.
“ Yeeee, hak sasi dongg,haha. Jadi nanti kalau cewe gue datang bulan terus nyuekin gue, gue jadi udah tau alasnnya, hahaha” jawab Afqa.

“ hmmm,, cewenya??” batin Kharin.

Ia pun berniat menanyakan Langsung pada Afqa tentang berita yang tadi pagi didengarnya dari Devi.

“ Mmm Qa, gue boleh nanya?” ucap Kharin memberanikan diri.
“ Nanya apa Rin? Pasti gue jawab sampe tuntas deh, gue kan kalaungomong gak pake bayar kaya lo barusan, hahha” jawab Afqa.
Kharin tersenyum kecil.
“ Qa, gue denger-denger lo jadian sama kak Rosi ya?, bener?”
“ Ha?, ah elo Rin, mmm, kata siapa?? Ha..ha..” jawab Afqa setengah gugub.
“ Gak penting Qa, jawab aja lagi, katanya mau di jawab sampe tuntas?, hayoo?”
Afqa langsung terdiam, ia kelihatan kebingungan menjawab pertanyaan Kharin.
Kharyn terus menunggu jawaban dari Afqa.
“ Qa???,, yo dong jawab.” Paksa Kharin.
“ Oh iya iya he..he..
Mmmm, iya Rin, gue jadian sama ka Rosi.” jawab Afqa pelan.
Kharin terdiam sejenak, walaupun ia tak lagi terkejut mendengar jawaban Afqa, namun ia tetap merasa ada sesuatu yang menusuk dalam hatinya.
“ Oh, ha..ha.., yaudahdeh kalau gitu, selamet ya.” ucap Kharin lirih.
“ Selamet? buat apa?”
“ Buat hati jadian lo sama ka Rosi.”
Kata-katanya terasa berat untuk ia ucapkan, namun Kharin berusaha menutupi itu.
Afqa tidak menjawab, ia hanya melihat ke arah luar kelas.

“ Mau kemana Qa?” tanya Kharin saat Afqa hendak pergi.
“ Keluar ah gue, cari angin”
“ Mau cari angin apa cari ka Rosi?”goda Kharyn.
“ Apaan sih lo Rin? Gausah sok tau deh, gausah ikut campur msalah gue..!!” Jawab Afqa sinis.
Kharyn tertegun mendengar jawaban Afqa, anak-anak kelas yang semula berisik mendadak hening mendengar bentakan Afqa.
Semua mata tertuju kepada Afqa dan Kharyn, Afqa melihat ke sekelilingnya, kemudian ia melangkah keluar kelas meninggalkan Kharin yang masih bingung memikirkan reaksi Afqa barusan.
“ Kenapa sih Ryn?, ada apa?, ko Afqa ngebentak lo gitu?” tanya Resa sambil menghampiri Kharin.
“ Gue juga bingung Far,” jawab Kharin pelan.
Fara hanya mencoba menenangkan Kharin, lalu Kharin beranjak dari tempat duduknya dan melangkah ke luar kelas.

“ Mau kemana Rin?” tanya fara.
“ Ke WC” Jawab Kharin singkat.
“ Mau gue temenin?”
“ Enggak usah far.” ucap Kharin sambil tersenyum kecil kepada Fara.
Kharin pun berjalan ke luar kelas, saat akan menuruni tangga koridor, Kharin berpapasan dengan Afqa. Ia pun segera mempercepat langkahnya, namun Afqa mencoba menghampirinya.
“ Rin, tunggu..!!!” ucap Afqa sambil meraih tangan Kharin.
Kharin tidak menjawab, ia hanya diam sembari mencoba melepaskan tangan Afqa dari tangannya.
“ Maafin sikap gue tadi Rin, gue gak sengaja,gue gak bermaksud ngebentak lo.” ucap Afqa.
“ Udahlah Qa, buat apa lo minta maaf? Emang salah gue kok, gue terlalu ikut campur urusan lo, gue terlalu sok tau..!!, iya kan?iya kan??” jawab kharin setengah emosi. Nampak air mata di sudut kedua matanya.
“ Maafin gue rin, gue Cuma males bahas Rosi, maafin gue yaa??” mohon Afqa.
Kharin menatap Afqa, lalu ia melepaskan tangan Afqa dari tangannya.
“TERSERAH…!!, gue udah gak mau tau lagi urusan lo.” jawab Kharin sambil melangkah meninggalkan Afqa.
Afqa terus memandang ke arah Kharin, ia tidak menyangka bahwa Kharin akan semarah itu. Afqa menyesali pada Kharin di kelas tadi, namun sebenarnya ia tek bermaksud membuat Kharin marah.
“ Gue Cuma gak mau bahas cewe lain sat gue sama lo Rin,,” ucap Afqa dalam hati.


@@@



Jam di kamar Kharin terus berdentak, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Kharin masih terduduk di meja belajar dengan coretan-coretan asal di bukunya. Sesekali ia melihat Handphone nya yang tergeletak di atas tumpukan kertas-kertas tugas sambil berhrap ada pesan masuk dari Afqa untuknya.
“ Hmm, apa segitu sok tau nya ya gue? Sampe afqa ngebentak gue kaya gitu.” ucap Kharin pada dirinya sendiri.
Kharin terus menghabiskan waktunya dengan mencoret-coret bukunya sambil terus menunggu pesan dari Afqa. Hingga waktu menunjukan pukul 11 malam, tak ada satu pun pesan dari Afqa yang ia terima. Akhirnya Kharin menyerah, ia pun merapikan buku dan tumpukan tugas, dan Handphone nya ia biarkan begitu saja tergeletak di atas meja belajar.
Kharin melangkah menuju kasur, ia pun membaringkan badannya sambil perlahan menutup mata dan melepaskan semua hal yang terjadi padanya hari itu.

Di samping itu,,

Afqa masih terus memandangi handphone yang ada di genggamannya, sudah berkali-kali ia menekan beberapa digit nomor untuk dihubungi, namun sebelum telepon itu tersambung, Afqa cepat-cepat memutuskan teleponnya.
“ Hemm, apa sikap gue kelewatan ya ke Kharin?, kalau gue telepon, apa dia bakal jawab gue? Ahhh..!!” ucap Afqa sambil menggerutusendiri.
Ia pandangi lagi Handphone yang ada di tangannya.
“ Coba sekali lagi deh, ini yang terakhir.” ucap Afqa sambil menekan beberapa digit nomor dan menunggu smpai telepon itu tersambung.

“ Tuuuutttt..tuuuuttttttt…”
“ Tuuutttttt..tuuuuutttttt…”
Telepon dari Afqa belum juga tersambung.
“ Ayo dong please angkat Rin.” ucap Afqa dalam hati
“ Tuuutttt..tuuuttttttt…”
Kharin yang sudah tertidur pulas tidak menyadari bahwa Afqa meneleponnya.
“ Tutttttttt..ttuuuuuuuttttttt…”
Afqa terus berharap teleponnya tersambung.
“ Tuuuuuuutttttttttttttttttttt….., nomor yang anda tuju tidak dapat memerima panggilan, silahkan coba beberapa saat lagi atau tinggalkan pesan, tuts”
Afqa meletakan Handphonenya dengan perasan kecewa, ia pun perlahan berbaring di tempat tidurnya.
“ Bener kan dugaan gue, Kharin gak akan angkat telepon dari gue, hmm.”

Afqa pun mematikan lampu kamarnya.



@@@














Tidak ada komentar:

Posting Komentar